Postingan

Kalau diperhatiin, sekarang ini dunia digital kayak pasar malem yang nggak pernah tidur. Semua orang teriak paling benar, paling update, paling terpercaya, paling segalanya. Tapi makin ke sini, kok rasanya mirip labirin informasi. Banyak pintu, banyak cahaya, tapi kita nggak yakin; mana yang jalan keluar dan mana yang cuma ruang palsu. Ruang digital yang dulu digadang-gadang jadi penyelamat demokrasi, pelan-pelan berubah jadi arena kapital; yang penting viral, bukan faktual; yang penting asik, bukan konteks. Dan di tengah kekacauan itu, ada satu pertanyaan yang mulai bisik-bisik masuk ke kepala kita: mungkinkah  kita akan balik lagi ke media lama? B uku, koran, majalah yang dulu sempat kita tinggalin tanpa menoleh. Soalnya gini: dulu, informasi cetak itu ibarat klub kecil dengan kursi terbatas. Yang bisa duduk cuma orang-orang yang beneran kredibel dan punya rekam jejak. Kalimat yang salah bisa jadi bumerang karier, jadi penyebaran berita dilakukan kayak menyiapkan racikan obat: ...
Halo, ini aku. Setelah sekian lama, akhirnya bisa kembali menulis di blog ini. Semua ini gara-gara hal sepele—lupa password. Tapi mungkin ada makna di baliknya. Mungkin, aku memang harus menunggu momen yang tepat untuk kembali menulis, untuk kembali mengingat, dan untuk kembali merasakan kehilangan yang belum benar-benar selesai. Masih ingat dengan tulisan pertama dan satu-satunya di blog ini? Iya, cerita tentang Kyai Merecon dan Keluarga Kucing yang ditulis saat aku masih duduk di bangku SMP. Tokoh kyai yang bijak itu bukan sekadar tokoh dalam tulisan, melainkan guru yang sesungguhnya. Guru yang mengajarkanku menulis dan membuatku gemar membaca sampai saat ini. Sedikit, aku tarik ke belakang. Jadi, di awal tahun 2021, aku kehilangan sosok guru sekaligus teman diskusi. Sosok yang selalu tersenyum, yang selalu menjawab banyak pertanyaan dengan lemah lembut dan penuh kesabaran. Tak jarang, jawaban-jawabannya justru menghadirkan lebih banyak pertanyaan, hingga akhirnya ia akan menyodorkan...

CONTOH TEKS ULASAN CERPEN kyai merecon dan keluarga kucing...

CONTOH TEKS ULASAN CERPEN  Kyai Merecon dan Keluarga Kucing.... LENGKAP DENGAN STRUKTUR DAN UNSUR INTRINSIK  ISI CERPEN Kyai Merecon dan Keluarga Kucing Pagi itu, langit mulai membuka ruang, jelajah awan menaiki tangga-tangga langit, semakin berbaris. Mentari pagi tepati janji, menyinari cakrawala yang masih terselimuti kabut gunung merapi. Di kampung yang sejuk, orang menyebutnya kampung pedut, dalam bahasa jawa artinya awan atau kabut yang menutupi pandangan. Memang kampung ini berada di kaki gunung merapi, kampung yang sejuk, air mengalir menyelinap bebatuan tiada henti, riuk angin menggerakan pohon bambu iramanya beriringan bagaikan musik simpony. Anak-anak berlari di buruan menembus kabut yang masih menyelimuti pagi. Sementara para petani tembakau, berkerudung sarung, menelusuri jalan setapak menuju ke kebun tempat mereka bekerja. Tak, heran di pagi buta kampung ini telah sepi ditinggalkan penghuninya pergi ke ladang. Di sini tak ada sejengkalpun tana...