Kalau diperhatiin, sekarang ini dunia digital kayak pasar malem yang nggak pernah tidur. Semua orang teriak paling benar, paling update, paling terpercaya, paling segalanya. Tapi makin ke sini, kok rasanya mirip labirin informasi.

Banyak pintu, banyak cahaya, tapi kita nggak yakin; mana yang jalan keluar dan mana yang cuma ruang palsu. Ruang digital yang dulu digadang-gadang jadi penyelamat demokrasi, pelan-pelan berubah jadi arena kapital; yang penting viral, bukan faktual; yang penting asik, bukan konteks.

Dan di tengah kekacauan itu, ada satu pertanyaan yang mulai bisik-bisik masuk ke kepala kita: mungkinkah kita akan balik lagi ke media lama? Buku, koran, majalah yang dulu sempat kita tinggalin tanpa menoleh.

Soalnya gini: dulu, informasi cetak itu ibarat klub kecil dengan kursi terbatas. Yang bisa duduk cuma orang-orang yang beneran kredibel dan punya rekam jejak. Kalimat yang salah bisa jadi bumerang karier, jadi penyebaran berita dilakukan kayak menyiapkan racikan obat: pelan, teliti, dan lebih takut salah daripada sekadar ingin cepat dikenal. Distribusinya jelas terbatas, proses editorial ketat, dan satu kesalahan dapat mempertaruhkan reputasi institusi. Disini, validitas adalah fondasi, bukan aksesori. 

Kalo kata Habermas, ruang semacam itu memungkinkan “diskursus rasional” yang di mana klaim kebenaran diuji, bukan diburu impresinya. Karena itu, sebagian orang hari ini mulai bertanya: Apakah validitas informasi hanya bisa dijaga jika kebebasan dikurangi?

Tapi kalo diinget-inget, pada saat itu media lama dinilai kredibel bukan hanya karena sistemnya yang ketat, tetapi juga karena; literasi media masyarakat lebih stabil, kebisingan informasi minim, dan informasi belum diperlakukan sebagai hiburan.

Sekarang, kita hidup di dunia yang berbeda. Informasi bukan hanya kebutuhan, tetapi hiburan, identitas, pelarian, bahkan kompetisi sosial. Di tengah masyarakat yang ingin teralihkan, bukan tercerahkan, apakah fakta masih relevan jika tak menghibur?
Pertanyaan ini pahit, tapi perlu dihadapi.

Di tengah masyarakat yang lebih butuh hiburan daripada kebenaran, validitas terasa kayak sayur yang kalah saing sama gorengan. Jujur dan faktual itu penting, tapi berapa besar peluang mereka untuk viral? seberapa cepat mereka mendapat perhatian?

Dilema ini bikin kita kayak berdiri di antara dua dunia: 

di satu sisi, kita rindu batasan yang menjamin kualitas; tapi di sisi lain, kita menikmati kebebasan yang kadang bikin kita lupa arah.

Media lama sering dibilang terlalu lambat dan eksklusif, media digital terlalu cepat dan tak terkendali. Dan kita terjebak di tengah-tengah; bingung memilih, tapi tetap bergantung pada keduanya.

Mungkin, pada akhirnya, balik ke media konvensional bukan berarti nostalgia total. Bukan sekadar kembali ke aroma kertas dan tinta, tapi kembali ke etika informasi di mana kebenaran punya harga, bukan sekadar bahan bakar impresi. Mungkin kita bukan rindu mediumnya, tapi rindu kepastian bahwa informasi tidak berkhianat.

Jadi yang patut ditanyakan bukan “apakah kita akan kembali ke media konvensional?” melainkan: apakah kita bersedia membayar harga untuk mendapatkan kebenaran? harga berupa waktu, kesabaran, literasi, dan keengganan menyerah pada sensasi.

Kalau dipikir-pikir, kita ini bukan cuma pembaca; kita juga manusia yang ingin dipercaya dan ingin mempercayai. Dan di dunia digital yang serbacepat ini, kepercayaan makin terasa kayak barang antik yang dipajang, bukan dipakai. Seakan-akan kita sedang menyaksikan zaman di mana informasi membentuk dunia, dan kita harus memilih jenis dunia seperti apa yang ingin dibentuk.

Apakah dunia yang cepat,
atau dunia yang benar?

Atau… mungkinkah kita menemukan cara untuk merawat keduanya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CONTOH TEKS ULASAN CERPEN kyai merecon dan keluarga kucing...