Halo, ini aku. Setelah sekian lama, akhirnya bisa kembali menulis di blog ini. Semua ini gara-gara hal sepele—lupa password. Tapi mungkin ada makna di baliknya. Mungkin, aku memang harus menunggu momen yang tepat untuk kembali menulis, untuk kembali mengingat, dan untuk kembali merasakan kehilangan yang belum benar-benar selesai.
Masih ingat dengan tulisan pertama dan satu-satunya di blog ini? Iya, cerita tentang Kyai Merecon dan Keluarga Kucing yang ditulis saat aku masih duduk di bangku SMP. Tokoh kyai yang bijak itu bukan sekadar tokoh dalam tulisan, melainkan guru yang sesungguhnya. Guru yang mengajarkanku menulis dan membuatku gemar membaca sampai saat ini.
Sedikit, aku tarik ke belakang. Jadi, di awal tahun 2021, aku kehilangan sosok guru sekaligus teman diskusi. Sosok yang selalu tersenyum, yang selalu menjawab banyak pertanyaan dengan lemah lembut dan penuh kesabaran. Tak jarang, jawaban-jawabannya justru menghadirkan lebih banyak pertanyaan, hingga akhirnya ia akan menyodorkan sebuah buku, seolah berkata, "Carilah sendiri jawabanmu di sini." atau saat aku merasa buntu dalam menulis, "Ya tinggal baca saja, nanti menulis bisa mengikuti."
Aku ingin kembali duduk bersamanya, mendengar suaranya yang tenang, dan menyerap kebijaksanaan dari tiap kata yang diucapkannya. Namun, kesempatan itu tak ada lagi. Waktu terus berjalan, sementara aku hanya bisa mengingat. Dulu, aku sering menunda untuk mengunjunginya, selalu ada alasan—kesibukan, penyekatan (karena Covid-19), atau sekadar janji kosong pada diri sendiri. Kini, yang tersisa hanyalah penyesalan dan rindu yang tak akan terbalaskan.
Sekarang, aku menangis. Namun, aku tahu, kepergiannya tak ingin ditangisi. Pernah ia berkata, "Kematian adalah pintu menuju keabadian ukhrowi." Barangkali, ia benar-benar abadi—dalam ilmu yang telah ia tinggalkan, dalam tulisan-tulisannya yang masih bisa kubaca, dalam kebijaksanaan yang terus hidup di hati murid-muridnya.
Komentar
Posting Komentar